Obyek “sakral” monyet


Jika Anda memelihara banyak monyet (setidaknya 10 monyet), lakukanlah percobaan ini:

Masukkan 5 ekor monyet ke dalam kerangkeng. Di dalam kerangkeng gantungkan sebuah pisang. Namun, pisang tersebut bukanlah untuk diberikan kepada mereka. Setiap kali ada monyet yang ingin mengambil pisang tersebut, guyurlah dengan air. Biarkan mereka tahu bahwa pisang tersebut “sakral”, tidak boleh disentuh. Lakukan penyiraman terus menerus setiap kali ada yang berani coba-coba mengambil benda “sakral” tersebut. Lama kelamaan, para monyet akan belajar dan mengetahui bahwa pisang tersebut adalah obyek “sakral” yang tidak boleh disentuh.

Lalu keluarkanlah seekor monyet lama dan masukkan seekor monyet baru. Monyet baru ini, karena belum pernah disiram, akan mencoba mengambil pisang. Namun, keempat temannya yang lain, dengan maksud baik, akan langsung mencegahnya. Mereka berteriak-teriak dan mencoba menariknya mundur dari pisang tersebut. Si monyet baru akan mencoba berkali-kali sampai akhirnya menyerah.
Setelah itu, masukkan pemain pengganti kedua. Monyet baru kedua ini tentu saja akan mencoba mengambil pisang tersebut dan teman-temannya semua akan mencoba mencegahnya. Ulangi lagi pergantian monyet sampai semua monyet-monyet lama diganti dengan monyet-monyet baru. Pada akhir percobaan, Anda akan mendapatkan 5 monyet yang sama sekali tidak tahu mengapa pisang tersebut tidak boleh diambil (karena tidak pernah disiram), namun mereka sendiri tidak berani mengambilnya.

Dan begitulah caranya kepercayaan yang tidak berdasar, seperti takhayul atau pantangan berkembang. Demikian juga dengan norma-norma budaya di sekitar kita. Sering hal-hal tersebut kita pelajari dari orang-orang sekitar tanpa kita mengerti asal-usulnya. Untunglah kita bukanlah monyet-monyet yang tidak bisa berpikir secara kritis. Sebagai manusia, setidaknya kita dibekali kemampuan untuk mempertanyakan ulang sistem kepercayaan kita: Apakah memang didasarkan atas dasar-dasar yang masuk akal atau tidak. Sekarang kembali kepada Anda: Bersediakah Anda menjadi manusia seutuhnya?

2 thoughts on “Obyek “sakral” monyet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s