Angsa hitam bernama ‘induksi’


article by itpin.

Kita mengenal dua cara untuk menarik kesimpulan atau menyusun argumen: deduksi dan induksi. Dalam deduksi, kesimpulan dianggap benar bila diturunkan dari premis-premis yang benar. Misalnya, bila premis pertama adalah: Semua manusia pasti akan mati, dan premis kedua adalah: Saya adalah manusia, dan kedua premis tersebut adalah benar, maka kesimpulan benar yang bisa ditarik adalah: Saya pasti akan mati.

Sementara itu, induksi tidak bermain dengan kepastian mutlak. Kesimpulan bisa ditarik dari premis-premis yang mungkin benar. Sebagai contoh: bila saya melihat kucing yang berwarna putih hari ini, dan besok melihat lagi kucing putih, dan keesokan harinya lagi melihat kucing berwarna putih, maka saya bisa menarik kesimpulan bahwa semua kucing berwarna putih. Kita bisa melihat bagaimana rapuhnya argumen berdasarkan induksi dibanding argumen deduksi. Singkatnya, bila deduksi bersifat pasti, induksi bersifat probabilistik.

Meski memiliki kelemahan dibanding deduksi, induksi sungguh menggoda karena kemampuannya mereduksi kejadian-kejadian individual menjadi generalisasi tunggal sehingga menghemat kapasitas penyimpanan di otak. Namun induksi mengandung bahaya tersembunyi, karena keterbatasan kemampuan kognitif manusia, kita sering menganggap kesimpulan dari hasil induksi sebagai hasil dari deduksi. Sikap rasialisme, praduga, atau takhayul sering berakar dari kerancuan ini.

Padahal seperti yang kita ketahui, kesimpulan induksi belum tentu benar, sekuat apa pun contoh-contoh kasus yang diberikan. Sebagai contoh, sebelum abad ke-17, orang-orang Eropa hanya pernah melihat angsa berwarna putih. Sebab itu, mereka percaya bila semua angsa harus berwarna putih. Kesimpulan induksi sempat dianggap sebagai kesimpulan deduksi, sampai seorang penjelajah Belanda, Vlaming menemukan spesies angsa hitam, cygnus atratus, di Australia Barat pada tahun 1697.

Penemuan angsa hitam tersebut menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan kelemahan induksi. David Hume, seorang skeptis tulen dari Inggris memakai penemuan angsa hitam ini untuk menjelaskan sikap skeptisnya terhadap kebenaran absolut, “No amount of observations of white swans can allow the inference that all swans are white, but the observations of a single black swan is sufficient to refute that conclusion.”

Bagi seorang skeptis tulen seperti Hume, di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak, meski yang diperoleh dari metode deduksi sekalipun. Menurut Hume, semua deduksi sebenarnya adalah induksi yang belum menemukan ‘angsa hitam’nya. Bahkan premis yang selama ini diterima sebagai kebenaran, seperti “Semua manusia pasti akan mati” bisa saja terbukti salah. Siapa yang bisa memastikan tidak ada manusia-manusia baka seperti dalam kisah Highlander yang hidup di antara kita? Walau peradaban manusia sudah melahirkan puluhan milyar anak manusia, cukup satu orang manusia baka saja yang dibutuhkan untuk membalikkan kebenaran premis bersangkutan.

Hukum-hukum alam yang diperoleh dari sains juga tidak bisa dianggap memiliki kebenaran kekal. Kita melihat bagaimana Hukum Newton ternyata tidak bisa dipakai pada skala makrokosmos (digantikan oleh teori relativitas Einstein) dan pada skala mikrokosmos (digantikan oleh teori mekanika kuantum). Teori geocentris yang sempat dianut ribuan tahun akhirnya terbukti salah dan digantikan oleh teori heliocentris berkat jasa Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Siapa di antara kita yang bisa menjamin baik teori relativitas, mekanika kuantum, dan heliocentris sebenarnya hanya merupakan hipotesa sementara sampai ditemukan lagi teori-teori baru yang lebih mendekati kebenaran absolut?

Dalam mencari kebenaran, kita tentu tidak perlu sampai seskeptis Hume. Skeptisme membutuhkan energi yang besar dan bila kita skeptis terhadap segala sesuatu, kita tidak akan mampu menyisihkan waktu untuk menikmati keindahan hidup. Induksi, dengan segala kekurangannya tetap diperlukan. Tetapi berbekal pengetahuan tentang kelemahan induksi, kita bisa mengurangi resiko yang ditimbulkannya. Misalnya saja, bila Anda percaya bahwa kemarau bulan Juli tidak akan menurunkan hujan, Anda bisa merencanakan piknik kebun pada bulan tersebut. Namun dengan menyadari bahwa kesimpulan tersebut adalah kesimpulan induksi, Anda bisa bersiap-siap bila hujan ternyata turun, misalnya dengan mempersiapkan payung besar atau mencari lokasi yang berdekatan dengan ruang tertutup. Dalam permainan saham, Anda bisa memakai strategi hedging atau metode stop loss untuk mengurangi kerugian bila analisis Anda ternyata salah. Kita juga bisa belajar untuk tidak memandang orang-orang yang berbeda dengan kita (baik dalam segi suku, ras, agama) secara negatif, meski kita sering mendengar cerita-cerita yang mendukung sikap negatif tersebut.

Cara terbaik untuk menjaga keseimbangan di sini adalah mungkin dengan bersikap open-minded dan belajar terus, sambil tetap memegang teguh beberapa kebenaran positif yang membuat hidup kita lebih berarti. Dan tetap ingat juga: Angsa hitam tetap memiliki kecantikannya sendiri, meski berbeda dengan kecantikan angsa putih.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s