Curhat seorang serdadu (part 2)


dari kompas.com…ditulis oleh org yg sama dengan penulis di thread “curhat seorang serdadu”
===========================
Seorang rekan sejawat saya di kantor mengomentari tulisan saya di KoKi kemarin itu. Katanya, “Mbok jangan hanya menulis kejelekan dan kekurangan TNI. Tulis juga dong kelebihan-kelebihannya! Banyak kok yang bisa kita banggakan dari angkatan bersenjata rongsokan ini,” katanya. Karena beberapa hari kemarin saya mendapat tugas ke Makassar, ke Kodam Wirabuana, maka saya belum segera bisa menulis penyeimbang tulisan saya dulu itu. Tadi sore, ketika saya membuka KoKi, kok kebetulan temanya bisa disambungkan dengan apa yang akan saya tulis berikut. Wah, kebetulan!

Kalau TNI hanya bermodalkan persenjataan yang serba ketinggalan plus kurang, maka lumrah kalau kita tak pernah memenangkan satu pertempuran secara cepat. Banyak contoh dalam hal ini. GAM, salah satunya. Sudah berapa tahun kami di TNI menghadapi mereka? Dari tahun 1976! Sebelumnya memang sudah ada Tengku Daud Beureueh, tapi gerakannya bisa kita selesaikan dengan damai, berkat upaya pemerintahan Soekarno. Mengapa hampir 30 tahun, kita masih menghadapi masalah yang sama di Aceh sana? Hal itu juga bisa dimaklumi bila dilihat dari kacamata militer. Dari sudut pandang politik, hal itu terasa menjengkelkan lamanya, karena orang-orang politik tak pernah tahu kondisi sebenarnya di lapangan. Banyak, banyak sekali masalah demikian yang juga dialami oleh angkatan-angkatan bersenjata di negara-negara lain yang menghadapi perang gerilya.

Amerika Serikat, dengan segala perlengkapan militernya yang “fresh from the oven” alias baru keluar dari pabrik saking anyarnya pun tak berdaya menghadapi serangan gerilya. Di Irak, hingga hari ini sudah lebih dari 3000 jiwa serdadunya melayang semenjak perang diultimatumkan oleh pemerintahan Bush 3 tahun silam. Di Vietnam, 56.784 nyawa tentaranya tercabut selama hampir 10 tahun peperangan melawan gerilyawan komunis. Peperangan itupun gagal Amerika menangkan. Amerika hanya berhasil meminta 251.113 nyawa tentara dan laskar Vietnam Utara sebagai imbal balik jumlah korban yang dideritanya. Pada perang world II, selama 3 tahun peperangan di teater Eropa dan Pasifik, 478.253 orang tentaranya terpaksa tak bisa kembali pulang hidup-hidup akibat tersambar peluru Jepang atau dihantam roket-roket Jerman. Di Korea, beberapa tahun saja setelah PD II, 32.775 serdadunya pun terpaksa dikirim pulang dalam kantong mayat. Contoh yang tak seberapa jauh adalah sejarah pendudukan tentara Belanda paska kemerdekaan Indonesia. Tentara Belanda yang selalu ditulis dalam setiap buku sejarah sebagai tentara bersenjata moderen dan bersenjata lengkap, tidaklah selalu demikian keadaannya. Mereka pun mengalami masa-masa sulit saat Amerika menerapkan embargo senjata. Harap diketahui bahwa seluruh perlengkapan militer yang digunakan KL (Koninklijke Landmacht=Tentara Kerajaan Belanda), mulai dari topi baja, seragam, senjata, tank, pesawat terbang, bahkan hingga ke rokok dan ransum prajurit, semuanya berasal dari surplus (sisa tentara AS pada masa PD II).

Seorang kolonel Belanda bernama Van Langen pernah menggambarkan keadaan yang begitu sulitnya akibat embargo AS, sehingga para serdadu Belanda dipaksa patroli berjalan kaki, karena truk-truk dan brencarrier kehabisan cadangan tali kipas dan pasak roda rantai. Sebegitu parahnya blokade dan embargo terhadap Belanda, sampai-sampai di Jawa Tengah pernah terjadi pengumpulan sepatu untuk dipinjamkan kepada tentara yang mau berpatroli. Jadi tentara yang sedang tidak mendapat tugas patroli wajib meminjamkan sepatunya kepada rekan-rekannya yang akan bertugas, karena pengiriman sepatu dan baju seragam tertahan di pelabuhan-pelabuhan negara-negara yang bersimpati pada perjuangan rakyat Indonesia. Kalau Anda pernah melihat buku-buku sejarah terbitan Belanda yang melukiskan bagaimana keadaan mereka di tahun-tahun akhir pendudukannya, Anda akan tahu juga betapa pada tahun-tahun tersebut (1948-1949), sudah susah dibedakan yang mana seragam tentara Belanda dengan pakaian gerilyawan kita! Sudah sama-sama kumal dan usang!Hal hal serupa juga menimpa tentara Filipina dengan musuh abadinya, gerilyawan Moro di Mindanao atau pemerintah Srilanka dengan musuh bebuyutan gerilyawan Tamil Eelam.

Nah, yang bisa digali dari penjelasan dan cerita di atas adalah sehebat apapun perlengkapan perang beserta persenjataan takkan bisa memenangkan pertempuran apabila tidak didukung dengan sumber daya yang baik. Juga, kelemahan pun pasti ada di setiap lini, bahkan yang dianggap terkuat sekalipun. TNI, boleh jadi kekurangan segalanya, termasuk personil (bahkan saat di Makassar, saya menjumpai satu satuan batalyon infanteri yang hanya berkekuatan 420 orang, dari idealnya yang berjumlah 600-700 orang. Masih menunggu tambahan dari siswa Secata, menurut wadanyon yang saya temui), namun merawat semua yang ada padanya dengan amat baik. Mana ada angkatan bersenjata negara lain yang masih mengoperasikan kapal pendarat (Landing Ship Tank) bikinan tahun 1943 seperti TNI, dengan masih berfungsi baik? Katakan pada kami, satuan artileri negara mana yang masih mempunyai mortir berat buatan tahun 1938, selain satuan artileri medan Korps Marinir? Anda juga perlu tahu bahwa Kopassus, korps baret merah yang belakangan tercemar namanya akibat ulah beberapa oknumnya yang terlibat dalam operasi bersandi Operasi Mawar, pernah dinobatkan sebagai pasukan khusus terbaik ketiga di world.

Urutan pertama ditempati oleh Special Air Service (SAS), pasukan khusus antiteror Inggris. Kedua (maaf, mengingat kebanyakan dari masyarakat kita sedang begitu membencinya) adalah Sayeret Matkal, pasukan khusus Israel. SAS telah terbukti termashyur keampuhannya di segala medan, bahkan oleh RPKAD (nama Kopassus pada masa itu) pada medio 60-an saat gencar-gencarnya Dwikora. Selama konfrontasi dengan Malaya (Malaysia) yang didukung Inggris, SAS yang turut diterjunkan ke medan perang oleh pemerintah Inggris, hanya menderita SATU korban tewas selama 2 tahun konflik. Sementara pihak RPKAD mengalami 32 anggota gugur dan hilang. Memang tidak ada pihak yang menang atau kalah dalam konflik ini, namun patut dicatat kebersediaan anggota TNI untuk berkorban dalam melawan musuh yang lebih unggul persenjataan dan SDMnya. Kopassus meraih peringkat ketiga sebagai pasukan elite terbaik world pada tahun 1981, dengan nama waktu itu masih Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha). Bermula dari pesawat Garuda Indonesia “Woyla” yang dibajak oleh segerombolan teroris di Bandara Don Muang Bangkok. Unit antiteror yang saat itu baru dibentuk oleh Kopassandha segera diterjunkan di bawah pimpinan Letkol Inf. Sintong Panjaitan, serta diawasi langsung oleh (alm) Mayor Jenderal Benny Moerdani.

Drama pembebasan tersebut turut dipantau oleh beberapa orang anggota Delta Force, pasukan elite Amerika Serikat. Inilah yang berhasil dicatat oleh seorang perwira Delta Force :“…satu regu tentara Indonesia yang hanya bersenjatakan AK-47 dan pistol, tanpa helm pelindung, bahkan tanpa seragam, beberapa diantaranya pun nyaris tanpa rompi anti peluru, menyelinap masuk dan menewaskan semua pembajak dengan waktu yang luar biasa singkat tanpa menimbulkan korban yang berarti. Kita harus memberi perhatian lebih pada satuan ini.” Selanjutnya, bila Anda membaca kurikulum pada pendidikan pasukan khusus di Batujajar, Anda akan terkejut bila mendapati satu mata pelajaran yang takkan didapat di pendidikan elite militer manapun, yakni pendidikan menaklukkan makhluk halus!

Sejak awal didirikannya, masih dengan nama Korps Komando Angkatan Darat (KKAD), tiap anggota Kopassus harus menerima kenyataan bahwa mereka hidup di Indonesia yang begitu sarat dengan hal-hal berbau mistik dan klenik, dan mereka mesti mampu mengalahkan semua itu! Setiap anggota Kopassus menerima latihan yang serupa Uji Nyali, hanya bedanya di program Uji Nyali, peserta diperbolehkan menyerah. Dalam latihan ini, setiap penampakan yang muncul wajib dilawan dan dikalahkan! Begitu pula dengan kemampuan survival anggota TNI yang nyaris terbaik pula di world. Dari segi peralatan, boleh jadi tentara kita termasuk yang paling terpuruk, namun dari faktor Sumber Daya Manusia, tentara kita masih bisa digolongkan sebagai tentara kelas atas. Hidup Indonesia!
==========================================
komentar gue: Kopassus edan, genderuwo dilawan juga

5 thoughts on “Curhat seorang serdadu (part 2)

  1. wehhh… membaca artikel ini membuat dada saya melembung krn bangga dengan bangsa indonesia, disatu sisi mereka harus berjuang menyelamatkan nyawa sendiri dan nyawa orang lain (TNI yang sedang bertugas di medan perang) tetapi masih ada elit DPR Indonesia yang lebih baik ekonomi dan kemapanan malah memperebutkan harta bangsa indonesia dengan ‘kunjungan kerja’ ke luar negeri yang dananya hampir mendekati total dana pembelian laptop bg anggota DPR. hanya satu kata, yak opo rekkk !!!

    Hidup TNI, Hidup Indonesia, Hidup Rakyat, hidup dan merdeka

  2. Baca artikel di atas membuat saya tertegun, Walupun tak banyak tau tentang dunia militer tapi saya kagum dengan latiahan2 kalian yang hebat. Pendidikan serdadu yang mengajarkan tentang keberanian nyali dan kedisiplinan penuh tak heran jika kalian memiliki sikap yang tangguh..
    Walaupun persenjataan tak secanggih mereka aku yakin kalian lebih hebat dari serdadu2 asing disana…

    SIKAP TANGGUH DAN KEBERANIAN KALIAN HARUS DJAGA DENGAN TANGGU JAWAB YANG PENUH.

  3. mantap om……… gue salut banget ama satuan elit kita, terlepas dari kesalahan mereka dimasa lalu………… dengan segala kekurangannya kopassus masih tetap setia ngejaga NKRI, gak kayak DPR……. dikasih enak masih aja rakus nggrogoti NKRI ….

  4. bangga w baca nya meski kita kekurangan dana and alat2 yg baru kaya singapur,and malaysiakentut,tapi dari skil and sdm kita bisa,masalah sdm kita bisa belajar lg
    buat presiden tolong peralatan militer kita diganti yg udah lama dong gimana si thanks

  5. aku akan berjuang
    dan mengabdikan seluruh jiwa ragaku untuk kesatuan nkri

    dariku:
    420147/catar-akmil/2008
    ADIT SETIAWAN
    08562896776

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s