Mesin Penghitung Suara Edison


Article by itpin

Ketika Thomas Edison muda masih bekerja di sebuah perusahaan telegraf, dia selalu mencari masalah yang bisa dipecahkan oleh sebuah penemuan baru. Penemuan tersebut kemudian akan dijualnya. Logikanya sederhana saja: Orang-orang pasti bersedia membayar untuk menyelesaikan masalah mereka. Yang dia butuhkan adalah mencari masalah yang dialami banyak orang, dan pihak yang mengalami masalah tersebut mampu membayar untuk solusi yang akan dihasilkan Edison tersebut. Persyaratan tersebut sangat masuk akal untuk menjamin keberhasilan sebuah inovasi.

Suatu petang, ketika berkunjung ke kantor dewan perwakilan negara bagian Massachusetts, dia mengamati betapa tidak efisiennya proses perhitungan suara para anggota dewan. Bahkan hanya untuk menghitung kertas suara saja membutuhkan waktu berjam-jam. Mata Edison yang sudah terlatih segera saja melihat kesempatan emas. Dia yakin dengan keahlian dan pengetahuannya, dia mampu menghasilkan sebuah alat penghitung suara elektronik yang akan memangkas waktu perhitungan suara dari berjam-jam menjadi hanya beberapa menit saja. Alat ini terdiri sebuah switch yang memiliki dua posisi: ya dan tidak. Cara pemakaiannya sangat sederhana. Bila Anda setuju dengan sebuah rancangan undang-undang atau pendapat, pindah saja switch-nya ke posisi ya, dan ke posisi tidak untuk sebaliknya. Hasil dari semua alat tersebut kemudian akan ditabulasi melalui sebuah proses electrochemical.

Anda setuju dengan Edison? Mengapa tidak? Masalah ini pasti dihadapi juga oleh lembaga-lembaga perwakilan lainnya yang pasti menggunakan perhitungan suara. Mereka juga pasti mampu membayar solusi baru yang akan dihasilkan Edison tersebut. Solusi tersebut dipastikan akan menghasilkan manfaat berkali-kali lipat dalam hal efisiensi dibanding proses yang dilakukan saat ini. Selain itu, solusi ini tidak merubah kebiasaan penggunanya secara drastis. Tidak banyak pembelajaran ulang yang harus dilakukan. Kelihatannya hampir tidak ada cela dalam solusi ini.

Edison berpikiran demikian. Edison ternyata salah!

Ada satu hal yang kelewatan…

Ketika Edison menyelesaikan mesin tersebut dan mencoba menawarkannya, dia ditolak mentah-mentah. Ternyata inefisiensi pada proses pengumpulan suara tersebut justru dibutuhkan karena selama waktu tersebut lobi-lobi dan proses negosiasi terjadi. Kadang upaya negosiasi tersebut berbuah pemindahan suara. Kelompok minoritas juga memiliki waktu untuk mempengaruhi hasil akhir bila mereka cukup lihai memanfaatkan waktu tersebut. Penemuan Edison yang memangkas waktu tersebut akan menghancurkan seluruh proses vital tersebut.

Di situlah letak kesalahan Edison (dan kebanyakan inovator lainnya). Dia tidak menghabiskan waktu untuk mendalami kebutuhan calon konsumennya terlebih dahulu. Yang dilihatnya adalah masalah secara fungsional, dengan melupakan aspek-aspek lainnya. Edison lupa bertanya. Edison tidak berusaha bertanya apakah ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan dengan keadaan sekarang? Apa kepentingan mereka dalam proses ini? Bagaimana penemuan ini mempengaruhi semua orang-orang terkait, baik secara positif atau negatif? Apakah manfaat positif yang ditawarkan solusi baru lebih besar dibanding dampak negatifnya?

Penemuan atau solusi inovatif apa pun seharusnya bukan dimulai dari pencetus ide atau dari laboratorium riset perusahaan. Inovasi yang memiliki peluang keberhasilan terbesar justru dimulai dari mendalami kebutuhan konsumen dan pihak-pihak terkait lainnya (yang sering disebut stakeholders). Dari sanalah seharusnya titik mula inovasi berasal.

Edison yang mengalami kegagalan ini lalu menulis demikian, “Never waste time inventing things that people would not want to buy.” Sebuah kalimat bijaksana yang kebenarannya akan kekal.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s