Notonagoro dan KKN


Ajisaka tidak percuma menciptakan Huruf Jawa Ho No Co Ro Ko Do To So Wo Lo Po Do Jo Yo Nyo Mo Go Bo To Ngo. Huruf ini begitu lentur bisa dikutak-katik, ditafsir bahkan dipakai untuk meramal.
Ke duapuluh Huruf Jawa itu mudah diberi huruf hidup hanya dengan menambahkan tanda. Ditambah tanda di depan atau dibelakang yang disebut Ditaling Tarung maka huruf A berubah menjadi O. Tetapi kalau Ditaling huruf A akan menjadi E. Jika Dicecek atau diberi tambahan koma di atas huruf maka A berubah menjadi ING. Berikan tambahan kaki dibawah atau Disuku maka A berubah jadi U. Tambah dengan tanda seperti huruf V atau Dilayar maka huruf Jawa itu mendapat tambahan R.
Kalau mau mendapatkan huruf i atau Diwuku tambahkan tanda lingkaran di bagian atas. Atau Dilegeno dengan memberi tambahan tanda seperti angka 2 tetapi dengan kaki belakang yang panjang kebawah maka A menjadi Ah.
Begitulah Huruf Jawa, diberi tambahan tanda apa saja akan melahirkan huruf hidup. Kecuali kalau Dipangku atau diberi tanda seperti kursi dibawah huruf maka dia akan mati.
Orang-orang sering berseloroh , huruf ciptaaan Ajisaka itu berpengaruh terhadap sifat orang Jawa. Diberi tantangan apa saja , orang Jawa akan kuat kecuali kalau dipangku baru mati. Maksudnya kalau sudah diberi kursi ia bisa mati rasa lupa sama rakyat karena keenakan duduk dikursi kekuasaan yang empuk.

Notonagoro
Terinspirasi dari Huruf Jawa ini pula orang meramal tokoh-tokoh yang bakal memimpin tanah Nusantoro alias Republik Indonesia. Pemimpin Nusantoro katanya musti mampu NOTONAGORO. Coba kita cocok-cocokan urutan nama presiden Republik Indonesia. Ternyata benar pas juga berurutan dari kata NOTONAGORO itu.
Presiden pertama NO = Soekarno, TO = Suharto, NA = Tresna (Belas kasihan Suharto pada Habibie. ) GO = Gus Dur, RO = Roro atau presiden wanita Megawati.
Nah sekarang kalau urutan NOTONAGORO sudah terpenuhi apakah ini bakalan diulang dari awal atau tetap bertahan di ujung.
Kalau balik lagi ke awalan maka sesudah Roro Megawati balik lagi ke NO = Yudhoyono, atau ke TO = Wiranto, atau NA = Tresna buat Hamzah Haz, atau lagi ke GO = Gus Dur duduk lagi. Atau pula tetap RO = Roro Megawati terpilih lagi jadi presiden.
Atau pula RO = Rais Amien.
Siapapun nanti yang jadi presiden, coba dicococokan pasti tidak akan lepas dari pakem NOTONAGORO ini.

KKN dan Lagu
Kalau soal mencocok-cocokkan orang kita boleh dibilang punya keahlian untuk itu. Selain ramalan NOTONAGORO diselorohkan pula presiden yang berurutan itu semua ternyata tak lepas dari KKN.
Soekarno : Kiri Kanan Nona
Suharto : Kolusi Korupsi Nepotisme.
Habibie : Kecil Kecil Nekad. Maksudnya beranian ngelepas Timor Timur.
Gus Dur : Kiri Kanan Nuntun.
Megawati : Keturunan Kepala Negara.
Kepikiran model gurauan begini, pelawak Miing waktu jadi presenter di Surabaya belum lama ini ikut-ikutan mencocokan lagu yang pas buat para calon presiden. Katanya yang cocok buat Megawati lagu The Beatles ” Don’t Let Me Down”. Kalau buat Amien Rais yang cocok lagu ” It’s Now or Never ”. Sedangkan Ham Haz pas kalau diberi lagu Dangdut ” Tidak Semua Laki-Laki ”. Dan Buat Gus Dur cocok dengan lagu ” Kegagalan Cinta ”.
Tapi sayang Miing tidak memberikan lagu buat Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono. Gampang aja. Buat Wiranto yang cocok lagu ” Aku Seorang Kapiten” dan buat SBY pas lagu ” Naik-Naik Ke Puncak Gunung ”.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s