Loss Aversion Dan Endowment Effect


Kadangkala kita berhadapan dengan pilihan yang serba sulit, dihadapkan pada keputusan untuk memilih pilihan terbaik dari pilihan terburuk atau yang lebih buruk lagi adalah memilih pilihan terbaik diantara yang terbaik.. sama-sama membingungkan. Menariknya, dengan kemampuan kita untuk memilih sesuatu yang beresiko dan memilih pilihan tersebut serta mengabaikan pola permainan safe dalam hidup. Kita dapat mengetahui sisi lain dari diri kita.. berikut ini petikannya kisahnya:

Andaikata Anda diberi tawaran dengan pilihan berikut:

(a) Anda akan langsung diberi Rp. 100.000; atau (b) Anda harus melempar koin terlebih dahulu. Bila koin menunjukkan kepala, Anda akan mendapatkan Rp. 200.000, tetapi bila yang keluar adalah ekor, Anda tidak mendapatkan apa-apa.

Mana yang Anda pilih?

Bila Anda menjawab (a), maka Anda berada pada kelompok mayoritas.

Apa yang menarik dari percobaan ini adalah: meski secara matematis dan statistik, kedua pilihan tersebut menyajikan ekspektasi nilai yang sama (pilihan (b) juga bernilai Rp. 100.000 karena ada 50% peluang mendapatkan Rp. 200.000 dan 50% peluang mendapatkan Rp. 0), namun mayoritas orang lebih menyukai pilihan (a). Di sini kita melihat bekerjanya bias kognitif yang disebut loss aversion. Istilah ini diberikan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang merupakan pakar di bidang ini. Kahneman malah memperoleh hadiah Nobel bidang ekonomi karena penelitiannya yang terkait di bidang ini (sebuah fakta menarik karena Kahneman sendiri adalah ahli psikologi, bukan ekonomi). Menurut Kahneman dan Tversky, nilai yang kita berikan untuk loss lebih besar dari gain.

Dengan kata lain, kita lebih senang bila berhasil menghindari kerugian Rp. 100.000 dibanding memperoleh keuntungan lebih Rp. 100.000.

Pada percobaan lain yang dilakukan oleh Knetsch dan Sinden (1984), para subyek diberikan tiket lotere dan uang $2. Setelah itu para subyek diperbolehkan menukar barang yang mereka peroleh tersebut. Ternyata, hanya sedikit yang bersedia melakukan barter. Kesimpulan dari percobaan ini adalah: kita lebih menghargai barang yang kita miliki dibanding nilai sesungguhnya. Ingin tahu nama keren untuk bias ini? Endowment effect.

(Sekarang, masihkah Anda merasa heran mengapa di rumah Anda terdapat banyak barang-barang yang sudah tidak terpakai, tetapi tidak dibuang? Atau, masih herankah Anda dengan teman Anda yang mati-matian mempertahankan pacar atau pasangannya meski pasangannya terbukti brengsek?)

Lalu apa arti kedua bias tersebut buat kita? Mengapa sampai ada hadiah Nobel diberikan hanya untuk hal yang kelihatan remeh ini?

Pertama-tama, ini bukan hal remeh. Kedua, ini bisa menjelaskan banyak hal yang kita lakukan.

Misalnya, kesimpulan penelitian ini mampu menjelaskan kenapa para pembeli saham ragu-ragu melepas saham mereka pada saat harga saham jatuh, sementara strategi yang benar adalah menjual saham tersebut secepatnya. Loss aversion dan endowment effect juga mampu menjelaskan mengapa orang-orang sering tidak suka mencoba produk-produk baru, terutama bila produk tersebut harus mengubah kebiasaan mereka. Sampai sekarang pun, masih banyak orang yang alergi dengan komputer atau Internet. Lalu, bias tersebut juga bisa menjelaskan mengapa para profesional jarang ada yang berani menjadi wiraswasta, walau pun mereka sudah memiliki modal dan kemampuan yang cukup.

Pada beberapa posting saya sebelumnya, seperti pada cerita tentang Gmail dan Hotmail, atau mengenai bagaimana sulitnya belajar sesuatu yang baru, salah satu tema yang bisa disarikan adalah:

untuk berubah, kita butuh krisis. Mengapa? Setelah Anda mengenal bias loss aversion, maka Anda dengan mudah melihat bahwa untuk berubah kita harus kehilangan apa yang kita percayai selama ini.

Hal itu tidak mudah, apalagi bila perubahan tersebut tidak bisa menjanjikan sesuatu yang lebih baik. Karena itu, kekuatan terbesar untuk memulai perubahan adalah bila kita sudah melihat dan merasakan krisis yang cukup besar dengan tetap mempertahankan keyakinan sekarang. Krisis, dengan kata lain, adalah pengungkit untuk menyeimbangkan persepsi kita atas loss dan gain.

Selain krisis, apakah ada cara lain untuk menangkal bias ini? Tentu ada. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menjadikan keadaan sekarang sebagai salah satu pilihan yang sama bobotnya dengan pilihan-pilihan lainnya. Memang tidak mudah membohongi psikis Anda, tapi itu layak untuk dicoba, terutama bila Anda lagi berkutat dengan keputusan-keputusan penting seperti: Apakah harus pindah karir? Apakah hendak memulai usaha sendiri? Apakah produk ini harus ditarik di pasaran? Atau untuk urusan pribadi seperti: Apakah saya harus menikahinya?

One thought on “Loss Aversion Dan Endowment Effect

  1. akhirnyaaaaaa. ketemu juga pembahasan loss aversion yang bahasa indo.sip2.thanks.bgus2. eh selain contoh2 loss aversion yang dah di sebutkan di atas. masih ada lagi ga?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s